Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.
Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.
Orang itu lalu berfikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu! Bagaimana dia makan?
Orang itu lalu menghentikan pekerjaanya dan memperhatikan cicak itu. Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makan dimulutnya… AHHH!
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.
Sungguh ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan.
JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG KITA KASIHI!
Roman Tetralogi Pulau Buru mengambil latar kebangunan dan cikal bakal nasion bernama Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya, waktu kita dibalikan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pegerakan nasional mula-mula.
Kehadiran roman sejarah ini bukan saja di maksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesustraan yang sangat minim manggarap periode pelik ini, karena inti hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.
Tetralogi ini di bagi dalam empat buku. Pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman ke tiga ini, “ Jejak Langkah ” adalah fase pengorganiasaian perlawanan tahun 1900-an.
Mingke ( Tirto Adisuryo ) memobilisasi segala daya untuk melawan bercoklonya kekuasaan hindia yang sudah berabad-abad umurnya. Namun Mingke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan pribumi.
Dalam perlawananya, tentu Minke dibantu banyak orang yang begitu berempati pada kerja keras Minke dan pada masa depan bangsa ini. Salah satunya adalah Nyai Ontosoroh, yaitu bekas mertua Minke ( Ibu Annelis/bekas Istri Minke yang meninggal dunia ) yang masih selalu mendidik dan membantu Minke baik dari sisi Ekonomi maupun idea.
Sampai pada akhirnya, Minke disekolahkan ke-Stovia ( Sekolah kedokteran zaman Hindia-Belanda di Batavia ). Sejak saat itulah ide tentang kerakyatan dan nasional, Minke dapat dari orang-orang disekitarnya. Seperti Ang San Mei, aktivis China (Komunis) yang terdampar di Indonesia, yang kemudian menjadi Istrinya pula.
Berbagai idea terakumulasi, bagai gelindingan bola salju. Sampai pada akhirnya Minke menggalang kekuatan baik materi maupun jaringan, dengan merekruit beberapa tokoh/priyayi betawi. Dalam prosesnya Minke berupaya mencerdaskan masyarakatnya, dengan membentuk surat kabar pertama masyarakat pribumi, tanpa mengenal kelas pribumi mereka dapat mengadukan segala keluh kesahnya, bahkan sampai pada tahap advokasi. Yaitu terkenal dengan Medan Prijaji, dengan Koran ini Minke berseru-seru kerakyat pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi dan menghapuskan kebudayaan feodalistik sekaligus lewat jalan jurnalistik , Minke berseru-seru: “ Didiklah Rakyat Dengan Organisasi Dan Didiklah Penguasaan Dengan Perlawanaan.”
Usaha-usaha ini bukan tanpa rintangan, sering kali Pemerintah Hindia-Belanda yang di Gubernuri oleh Jend. Van Heuzt melakukan tindak kekerasan. Tetapi hal tersebut bahkan menjadi motivasi tinggi bagi Minke. Gerakan masyarakat pertama dan terbesar di Asia, pada saat itu Syarikat Dagang Islam menjadi senjata ampuh, dalam melawan gerakan Kapitalis, yang lebih dikuasai para pendatang ( Belanda, China dan Arab ). Sedangkan rakyat yang sedarah dan sedaging dengan bumi pertiwi ini, tergerus oleh bangsa lain yang hanya berupaya mengekploitasi bangsa Indonesia.
Gerakan ini tidak berhenti, pemuda pribumi yang dipelopori Oetomo yang tidak lain adik kelas Minke di Stovia, semakin mengibarkan bendera perlawanan pada Pemerintah Hindia-Belanda. Pada gerakan ini, muncul kader-kader muda baru yang sadar akan kecintaannya pada bangsa pribumi, bangsanya sendiri.
Meski pada akhir buku ini, Minke ditangkap dan dibuang kepengasingan di Sulawesi. Tetapi perlu diingat, dialah Sang Pemula. Berkat kesadaran dan keberaiannya munculah akumulasi kesadaran rakyat. Sehingga Indonesia ada, dan muncul generasi baru yang menjadi tombak ujung pejuangan kemerdekaan Indonesia.
Kritik dan Saran :
Novel ini, adalah sejarah yang dikemas oleh kesusastraan/fiksi. Secara umum, novel sejarah ini, sangan ringan dibaca, sehingga si pembaca tenggelam dan hanyut pada isi bacaan. Namun dari sisi yang lain, banyak moment dan tokoh yang terlalu bias/samar konfliknya. Sehingga sering kali kita sulit mencocokan isi cerita dengan kejadian sebenarnya. Padahal, banyak moment yang bersamaan terjadi dengan konflik utama cerita ini, tetapi kurang diungkap kejadiannya. Seperti gerakan Boedi Oetomo, yang sampai saat ini selalu menjadi moment bersejarah, tonggak pergerakan generasi muda pertama di Indonesia.
Categories
- artikel (2)
Shout Box
|
|
Archives
Poetry
Dalam remang cahaya bulan sepi hari
Aku terkenang dirimu
Dalam kanvas kesedihanku
Ada warna kelam membentang menutup pandang
Menghitam darah lukamu
Aku menulis puisi
Ketika lidah tak sanggup nyalakan mata batinku
Satukan jiwaku dengan jiwamu
Dalam kalimat panjang cinta namanya
Pelabuhan tempat berlabuh
Aku melukis wajahmu
Ketika bulan mati dalam mimpiku
Dalam malam panjang
Sedang aku tak sanggup menyebut namamu lagi
Ketika wajahmu menyala dalam remang cahaya bulan