Roman Tetralogi Pulau Buru mengambil latar kebangunan dan cikal bakal nasion bernama Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya, waktu kita dibalikan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pegerakan nasional mula-mula.
Kehadiran roman sejarah ini bukan saja di maksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesustraan yang sangat minim manggarap periode pelik ini, karena inti hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.
Tetralogi ini di bagi dalam empat buku. Pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman ke tiga ini, “ Jejak Langkah ” adalah fase pengorganiasaian perlawanan tahun 1900-an.
Mingke ( Tirto Adisuryo ) memobilisasi segala daya untuk melawan bercoklonya kekuasaan hindia yang sudah berabad-abad umurnya. Namun Mingke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan pribumi.
Dalam perlawananya, tentu Minke dibantu banyak orang yang begitu berempati pada kerja keras Minke dan pada masa depan bangsa ini. Salah satunya adalah Nyai Ontosoroh, yaitu bekas mertua Minke ( Ibu Annelis/bekas Istri Minke yang meninggal dunia ) yang masih selalu mendidik dan membantu Minke baik dari sisi Ekonomi maupun idea.
Sampai pada akhirnya, Minke disekolahkan ke-Stovia ( Sekolah kedokteran zaman Hindia-Belanda di Batavia ). Sejak saat itulah ide tentang kerakyatan dan nasional, Minke dapat dari orang-orang disekitarnya. Seperti Ang San Mei, aktivis China (Komunis) yang terdampar di Indonesia, yang kemudian menjadi Istrinya pula.
Berbagai idea terakumulasi, bagai gelindingan bola salju. Sampai pada akhirnya Minke menggalang kekuatan baik materi maupun jaringan, dengan merekruit beberapa tokoh/priyayi betawi. Dalam prosesnya Minke berupaya mencerdaskan masyarakatnya, dengan membentuk surat kabar pertama masyarakat pribumi, tanpa mengenal kelas pribumi mereka dapat mengadukan segala keluh kesahnya, bahkan sampai pada tahap advokasi. Yaitu terkenal dengan Medan Prijaji, dengan Koran ini Minke berseru-seru kerakyat pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi dan menghapuskan kebudayaan feodalistik sekaligus lewat jalan jurnalistik , Minke berseru-seru: “ Didiklah Rakyat Dengan Organisasi Dan Didiklah Penguasaan Dengan Perlawanaan.”
Usaha-usaha ini bukan tanpa rintangan, sering kali Pemerintah Hindia-Belanda yang di Gubernuri oleh Jend. Van Heuzt melakukan tindak kekerasan. Tetapi hal tersebut bahkan menjadi motivasi tinggi bagi Minke. Gerakan masyarakat pertama dan terbesar di Asia, pada saat itu Syarikat Dagang Islam menjadi senjata ampuh, dalam melawan gerakan Kapitalis, yang lebih dikuasai para pendatang ( Belanda, China dan Arab ). Sedangkan rakyat yang sedarah dan sedaging dengan bumi pertiwi ini, tergerus oleh bangsa lain yang hanya berupaya mengekploitasi bangsa Indonesia.
Gerakan ini tidak berhenti, pemuda pribumi yang dipelopori Oetomo yang tidak lain adik kelas Minke di Stovia, semakin mengibarkan bendera perlawanan pada Pemerintah Hindia-Belanda. Pada gerakan ini, muncul kader-kader muda baru yang sadar akan kecintaannya pada bangsa pribumi, bangsanya sendiri.
Meski pada akhir buku ini, Minke ditangkap dan dibuang kepengasingan di Sulawesi. Tetapi perlu diingat, dialah Sang Pemula. Berkat kesadaran dan keberaiannya munculah akumulasi kesadaran rakyat. Sehingga Indonesia ada, dan muncul generasi baru yang menjadi tombak ujung pejuangan kemerdekaan Indonesia.
Kritik dan Saran :
Novel ini, adalah sejarah yang dikemas oleh kesusastraan/fiksi. Secara umum, novel sejarah ini, sangan ringan dibaca, sehingga si pembaca tenggelam dan hanyut pada isi bacaan. Namun dari sisi yang lain, banyak moment dan tokoh yang terlalu bias/samar konfliknya. Sehingga sering kali kita sulit mencocokan isi cerita dengan kejadian sebenarnya. Padahal, banyak moment yang bersamaan terjadi dengan konflik utama cerita ini, tetapi kurang diungkap kejadiannya. Seperti gerakan Boedi Oetomo, yang sampai saat ini selalu menjadi moment bersejarah, tonggak pergerakan generasi muda pertama di Indonesia.
Potret pendidikan Indonesia yang semakin lama semakin tidak jelas, selalu menjadi bahan pemikiran semua kalangan. Baik Pemerintah, Swasta maupun para teknokrat, yang sedikit banyak andil dalam pembenahan infra dan supra struktur pendidikan bangsa kita. Hal ini ditunjukkan oleh kualitas pendidikan yang setiap tahun mengalami penurunan. Ditambah lagi dengan kuantitas yang ikut menurun. Belum lagi alokasi anggaran dari pemerintah yang tidak pernah menjadikan pendidikan sebagai prioritas.
Tentunya begitu banyak hal yang menghambat perkembangan pendidikan di Indonesia. Selain kurangnya perhatian pemerintah, fasilitas yang tidak memadai, juga minimnya tingkat keseriusan dari stake holder pendidikan itu sendiri. Seperti para Guru, Orang Tua dan siswa itu sendiri. Artinya perlu komunikasi yang baik antara semua elemen. Tidak hanya diprioritaskan oleh pemerintah, tetapi juga harus didukung oleh kesadaran kolektif elemen pembangunnya.
Pendidikan dini didalam keluarga tentunya harus dapat menjadi pondasi yang kokoh, dalam rangka pembentukan karakter dan psikologis seorang individu. Pondasi ini yang nantinya akan membatasi system nilai dan norma ketika individu menjadi seorang makhluk social.
Sekolah adalah keluarga ke-dua, sehingga system pendidikan terbaik dan ideal tentunya harus diterapkan. Khususnya pada pendidikan dasar 9 tahun. Dalam lingkungan sekolah, seorang Guru seharusnya dapat menjadi orang tua kedua. Hakikatnya bukan pengajar tetapi pendidik. Sehingga Guru dituntut menjadi figure yang membumi. Bukan hanya menyampaikan pelajaran yang dikurikulumkan. Yang lebih penting lagi ialah menyampaikan system nilai dan norma yang berkembang dimasyarakat. Agar para siswa/i dapat menumbuhkan human right, moralitas yang manusiawi. Agar sebagai seorang individu dia dapat menilai hal terbaik untuk dirinya.
Rendahnya Minat Baca dan Menulis
Budaya baca dan menulis masyarakat Indonesia yang rendah merupakan salah satu factor yang menyebabkan pendidikan Indonesia dari tahun ke-tahun tidak pernah mengalami perbaikan.
Bayangkan, ditengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin menggila ini, kita hanya berlaku sebagai korban, menjadi penikmat saja kita tidak mampu, apalagi menjadi pembaharu atau producen kemajuan. Kita bagai sebuah boneka yang dijejali apapun diam saja dan menerima ibarat taklid buta, tanpa reserve.
Hal ini ditunjukan oleh minimnya produktivitas bangsa kita, akan membaca dan karya tulis. Dimasa penjajahan Belanda, siswa setingkat SMA saja wajib membuat 106 karya tulis dan membaca 25 buku sastra yang terdiri dari empat bahasa yaitu bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Prancis. Sekarang ini anak SMA hanya dapat menulis rata-rata satu karya tulis dalam satu tahun.
Anjloknya budaya baca dan tulis ini mulai terjadi ketika Pemerintah cenderung memprioritaskan Pembangunan Fisik, tanpa diikuti pembangunan moral masyarakat. Sehingga daya pandang dan pola fikir masyarakat cenderung simbolik dan materialistis. Padahal dengan membaca dan menulis tidak hanya menambah pengetahuan, namun juga menumbuhkan rasa kemanusiaan dan logika berfikir.
Perlu Terobosan
Sesungguhnya banyak cara apabila pemerintah memilki niat baik untuk mencerdaskan masyarakat. Pertama ialah meningkatkan minat baca. Hal ini saya kira penting, karena bagaimana pun Pemerintah berkepentingan pada masyarakat yang cerdas. Bagaimana mungkin misalnya, Pemerintah Daerah akan dapat membuat kebijakan yang didukung masyarakat, apabila masyarakatnya tidak cerdas. Masyarakat yang belum cerdas tidak hanya dilihat dari tingkat pendidikan, tetapi dari kualitas dan kuantitas bacanya. Sebab, banyak orang yang berpendidikan tinggi tetapi tidak cerdas, karena malas baca. Sehingga yang timbul ialah kekerasan disekolah atau kampus, atau perkelahian antar pelajar atau mahasiswa. Karena, pada saat ini masyarakat Indonesia masih memandang pendidikan dari sisi kuantitas, yang penting sekolah “agar tidak ketinggalan zaman/gengsi”, akan tetapi ghiroh pendidikan yang mulia sebagai bekal hidup dunia dan akhirat tidak menjadi orientasi.
Kedua, perbaikan Sistem Pendidikan. Baik itu Lembaga Pendidikan, fasilitas pendidikan, Infra Struktur, bahkan sampai kepada tahap Kebijakan. Lembaga Pendidikan bertanggung jawab atas perkembangan pendidikan saat ini. Dengan tingginya jumlah penggangguran, sudah dapat menyimpulkan betapa hancurnya system pendidikan bangsa kita. Sebagian besar lembaga pendidikan hanya berfikir komersil, yang penting sebanyak mungkin siswa yang dapat mereka rekrut, sampai-sampai jumlah siswa melebihi kuota fasilitas. Seolah-olah lembaga pendidikan lepas tangan ketika siswa-nya telah lulus. Atau mungkin tidak terfikirkan bagaimana solusi terbaik agar setelah siswa lulus menjadi lebih berguna, baik itu mendapat pekerjaan ataupun meneruskan keilmuannya.
Sistem ini mau tidak mau terkait dengan system sosialnya. Artinya pemerintah harus dapat mengendalikan regulasi generasi. Dengan menciptakan ruang public, saya kira dapat mengatasi jumlah pengangguran. Karena dengan kondisi ekonomi yang fruktuatif saat ini sangat sulit menghilangkan pengangguran. Meski bentuknya tidak lapangan pekerjaan, minimal ada ruang untuk mencurahkan kreativitas. Dengan begitu diharapkan tercipta masyarakat yang produktif, bahkan tidak bergantung pada pemerintah.
Bandung, 9 Desember 2007
Selasa, 26 Desember 2006
Hari ini aku mulai menulis lagi. hari yang cukup membosankan dari hari-hari yang biasa aku lalui. terlebih hari kemarin,
kerjaku hanya rebahan sambil menonton tv. sesekali diselangi sarapan dan sholah bila ingat.
hari ini hujan masih terus turun, sama seperti hari kemarin. Kebetulan hari kemarin Natal,dikosan sepi, hanya ada adit,diki,eris dan aku. Hari ini
tambah satu si usep,bawa pespa biru datang dari Tasik.
kami sedikit berbincang, tentang film harry potter yang kami tonton. Lumayan menghilangkan jenuh dan memancing imajinasi kami.
Juga tentang hujan yang terus turun. Aku bilang entah disengaja / tidak. Setiap natal selalu hujan.
Hari ini, aku pergi ke-AMS. Mang San2 sms buat perbaiki surat bodong kegiatan tahun baru yang salah, yang aku bikin kamis lalu.
Sms ku gak dibalas, aku bingung. jadi aku putuskan pergi ke-AMS. Selagi perjalanan ingat ATm yang belum ku ambil.
Turun dari angkot langsung ke bank,antrian penuh,kebetulan juga customer service sedang istirahat.
Aku jenuh menunggu, jadi aku putuskan melanjutkan jalan ke-AMS. Hujan rinti2 masih terus turus, kepalaku agak pusing.
Sampai, ada Mang du2n, Mang San2, dan indra sekjen organisasi kami. Juga orang sekretariatan Lu2k.
Orang yang cukup kritis, nyeleneh, tapi sayang dia tidak punya wewenang. Kita ngobrol2 banyak,
tentang kehidupan yang semakin susah. Hutang disana-sini, belum lagi beban sehari2 yang tidak boleh dianggap enteng.
Ditambah beban materi organisasi GADA-AMS yang kita duduki dan baru saja diresmikan 2 bulan lalu.
Surat2 bodong yang kami buat kemarin, mungkin untuk mengatasi sedikit kesulitan kami. sebetulnya, sangat ironis bila difikirkan.
Disatu sisi sebagai seorang aktivis ada beban idealisme yang perlu kita junjung sebagai landasan berfikir kita. Tapi juga tidak bisa dipungkiri
tentang beban kehidupan yang semakin sulit. Dengan alasan perjuangan terkadang kita menghalalkan berbagai cara untuk melanjutkan hidup.
Dari kegiatan2 sampai proposal2 bodong yang kita kirimkan kepejabat2. Kadang juga skandal seperti ini dijustifikasi sebagai harat ghonimah
atau harta rampasan perang. dengan dalih kita mencuri dari seorang Gembong Perampok. Mereka menyebutnya Robin Hood seperti difilm kolosal.
Pembicaraan2 tersebut hanyalah keluhan2 klasik bagiku. aku juga terkadang muak!
akhirnya pukul 5 lebih aku pulang, meski nasi udukku masih menghutang dan belum sempat terbayar, karena uangku tinggal Rp.1800.
Pulsa Hp sudah terisi oleh teman baiku si Hasan, dia telpon untuk bantu dia bertemu dengan Da2 Rosada Walikota Bandung. Untuk sambutan kegiatan
Lingkungan Hidup Dia Januari mendatang. Sampai dikosan istirahat, sambil nonton film Harry Potter 3 dari si Diki. Aku telp Uji, aku lumayan
kangen, meski minggu kemarin dia baru berkunjung dari sini. Aku marah2 karena acara malam tahun Baru depan dia gak bisa datang, karena jadwal
job band dia diPuncak. AKu berusaha merenggangi konflik ini dengan aku ikut pada acaranya. Ternya itu aca privet Party, aku tidak bisa masuk.
Aku jadi semakin marah, tapi selanjutnya dia juga baik2in aku supaya tidak semakin marah lagi.
AKu sms Dada Rosada untuk bertemu hari Jum'at ini. Dia belum balas aku kecut juga, sedikit dongkol. Bagitulah salah satu figur Pejabat masa kini.
Kadang mereka sok angkuh, sok sibuk, meski belum tentu kesibukan mereka demi Rakyat yang mereka janjikan pada saat mereka kampanye.
Sulit membedakan mana kepentingan kolektif dan mana kepentingan suci untuk rakyat. Kebenaran umum kini bukan lagi kebenmaran hakiki
yang muncul dari hati kecil. Tapi kebenaran yang digandrungi kebutuhan sesaat, demi kolektif2 atau sekelompok orang yang berada didekat sistem.
Archives
Poetry
Dalam remang cahaya bulan sepi hari
Aku terkenang dirimu
Dalam kanvas kesedihanku
Ada warna kelam membentang menutup pandang
Menghitam darah lukamu
Aku menulis puisi
Ketika lidah tak sanggup nyalakan mata batinku
Satukan jiwaku dengan jiwamu
Dalam kalimat panjang cinta namanya
Pelabuhan tempat berlabuh
Aku melukis wajahmu
Ketika bulan mati dalam mimpiku
Dalam malam panjang
Sedang aku tak sanggup menyebut namamu lagi
Ketika wajahmu menyala dalam remang cahaya bulan